Sabtu, 08 Januari 2011

Ayo Sambut Era Robot di Abad 21


Headline

Kepala Institute for the Future mengatakan, kemajuan di bidang robotik akan mendominasi dekade ini. Siapkah Anda menyambut era robot?
Menurut futurolog dan kepala Californian Thinktank the Institute for the Future (IFTF), dekade kedua abad 21 akan menjadi saksi meningkatnya tentara mekanis yang akan merevolusi kehidupan pribadi dan umum seradikal internet dan media sosial yang menggetarkan selama 10 tahun terakhir.
IFTF merupakan salah satu organisasi dunia yang melakukan riset sendiri dan telah merencanakan arah masa depan klien korporasi dan pemerintah. Lembaga ini telah berpisah dari RAND Corporation pada 1968.
Gorbis mengatakan, robot akan semakin mendominasi segala hal mulai dari cara berperang, mempermudah pekerjaan hingga urusan kehidupan manusia lainnya seperti mengatur dapur. “Robot cenderung memicu badai politik karena bisa menggantikan para pekerja,” kata Gorbis.
Namun, tak semuanya merupakan berita buruk. “Ketika Deep Blue IBM menjadi komputer pertama yang mengalahkan grand master catur Gary Kasparov, banyak orang mengatakan komputer lebih pintar dari orang,” katanya.
http://4.bp.blogspot.com/__4yRcaQbH6E/S4XOP1eJNJI/AAAAAAAAADc/dUpcV5dtdLM/s1600/irobot_1280.jpg
“Tapi, bukan berarti seperti itu. Artinya, komputer mampu memproses hal-hal lebih cepat dan mampu berpikir lebih baik”. Gorbis yakin bekerja sama dengan robot mampu menciptakan sebuah kemungkinan dunia baru revolusi industri.
MiliterASmendukung pengembangan robot mekanik berkaki empat yang disebut BigDogs. Dipandu sensornya sendiri, BigDog mampu membawa 150kg beban di segala jenis medan berbahaya. Di udara, pesawat robot mengintai Afghanistan dan helikopter kendali remote mengangkut pasokan.
Robot juga akan segera melakukan pekerjaan bangunan. University of South Carolina (USC) berhasil mengembangkan sistem Contour Crafting yang memungkinkan mesin bangunan dipandu komputer. Sistem ini mampu mengurangi waktu konstruksi dan biaya sebesar 75%.
Robot di Korea Selatan membantu guru di kelas bahasa untuk mengulang kata dan frase berulang-ulang dan menilai seberapa baik mereka menguasainya. Google sedang mengerjakan mobil mampu menyetir sendiri.
“Apa selain robot?,” kata Gorbis. Amazon dan gudang pengecer sepatu Zappos diorganisir oleh tentara robot oranye yang dirancang Kiva Systems. Tak terelakkan, kemunculan robot mampu membuat orang kehilangan pekerjaan.
Gorbis yakin kecenderungan ini akan membuat pengangguran menjadi 10% di banyak bagian dunia berkembang di masa mendatang. “Kita sedang masa transisi. Hal ini mirip ketika kita memekanisasi pertanian. Setelah itu periode pengangguran menjadi tinggi seiring pengalihan orang ke jenis pekerjaan baru. Orang belajar melakukan hal-hal lain,” katanya.
Terdapat potensi reaksi besar. “Sekali teknologi ditemukan, sangat jarang teknologi itu menghilang. Anda dapat menunda pengenalan namun akan tetap digunakan. Jika seseorang dapat menghasilkan sesuatu yang lebih murah dan cepat, artinya persaingan di lingkungan itu”.
Robot mendapat tekanan buruk. Namun di Jepang dan Korea, banyak inovator robot besar mendapat perlakuan lebih positif. Gorbis mengatakan ada spekulasi Jepang lebih selaras dengan robot karena mereka lebih suka mekanisasi dibanding impor tenaga kerja.
“Saya tak yakin itu benar. Apapun masalahnya, teknologi sangat mempesona dan memiliki dukungan politik. Dalam sebuah populasi kecil, mungkin Anda berpikir bahwa mesin bisa menjadi tenaga kerja Anda,” katanya.
Manusia juga cenderung menjadi lebih robot. “Kita memodifikasi diri sendiri dengan teknologi, kacamata, dan implan koklea. Kita akan melihat hal yang lebih dari itu. Sensor ada di tubuh dan membiarkan orang lain mengetahui apa yang kita lakukan, dan kondisi kesehatan. Semua jenis aplikasi ini bahkan belum terpikirkan”.
Gorbis mendapat pertanyaan apa masa depan datang lebih cepat. “Saya tak yakin. Kita punya akses informasi lebih lanjut tetapi jika Anda hidup dalam periode listrik atau bangunan dari rel kereta api. Saya yakin Anda benar-benar merasakan langkah perubahan Itu. Semuanya relatif”.
Tak ayal banyak orang khawatir dengan semua informasi yang dibombardir. “Saya merasa skizofrenik sendiri. Kadang saya merasa sangat tertekan ketika melihat perubahan iklim atau potensi penyalahgunaan teknologi. Namun kemudian saya benar-benar bersemangat melihat bagaimana kita mencipta ulang diri kita melalui teknologi”.

0 Komentar:

Posting Komentar